Senin, 20 Januari 2014
0 komentar

Ini Hati, bukan Hanger

23.53
Tak mungkin aku berbicara hanger lagi malam ini. Tentu kau pun sudah mengerti bagaimana kain bisa kering jika di hanger dan di gantung di jemuran. Atau pun kau bisa menemuinya di lemari kain mu. Hanger, atau kusebut saja gantungan adalah benda yang tegar. Bagaimana sepanjang hidupnya ia hanya digantung. Bayangkan "DIGANTUNG". Aku hanya tak ingin ikut campur lebih lagi tentang hanger. Itu memang sudah takdirnya. Setiap hal punya tugas dan tujuan masing masing kenapa dan bagaimana dia hidup di dunia ini.

Lebih seru jika kita berbicara tentang hati. Ini bukan tentang hati siapapun, tapi tepatnya hatiku. Kau tau bagaimana lemak diemulsi dalam tubuhku, atau racun dapat keluar atau bagaimana dengan pemecahan sel-sel darah, itu semua kerja hatiku. Tapi sekarang semakin berat karena posisinya yang sudah tidak tepat lagi. Jika dulu dia tergeletak, tapi sekarang di gantung. Kau tahu bagaimana akibatnya dengan diriku? Semua proses terjadi tidak seperti semestinya dia ada. Lemak semakin menumpuk, karena aku melarikan seluruh rindu dalam makanan ringan dan ku masukan lagi ke dalam mulutku. Racun-racun yang seharusnya bisa keluar dengan mudahnya, kini mulai merenggut pikiranku. Ya, pikiranku diracuni oleh potret dirimu dan semua hal tentangmu. Racun jenis apa itu? Entahlah, bahkan dokter spesialis manapun tak tahu dapat menemukannya atau tidak. Mengerikan? Tidak hanya itu saja. Pikiran itu semakin merusak tidur malamku. Bagaimana mungkin tiap malam kau bisa tidur tenang jika pikiranku terus mengusik kediamanmu. Mimpiku membosankan. Semua kamu. Jika jiwa statistikku boleh bekerja dengan baik, mungkin aku bakal error mengkalkulasi kehadiranmu dalam pikiranku. Peredaran darahku juga mulai tidak stabil. Bagaimana jantung ku boleh berdetak tanpa kau yang selalu membuatnya deg-degan. Semakin menyeramkan? Apalagi bagiku.

Kau mengerti sekarang? Hati bukan hanger, yang kuat untuk digantung. Jika kau menjadikanku pilihan, sementaraku menjadikanmu utama, adilkah bagiku?
Perlulah untuk kau mengerti, air mataku terlalu berarti hanya untuk kisah yang tiada jelasnya. Kedatanganmu pun tak ubahnya setan di malam jumat. Kau datang tak ku jemput, pulang tak diantar, singgah dan membuatku memikirkan hal yang sama itu berulang kali. TEGA.
Apalagi kata yang mau kau dengar dari hati ku yang sedang tergantung ini.

Mungkin aku terlalu bodoh untuk meninggalkan hatimu, karena sesaatpun aku tak pernah kau izinkan menyinggahinya. Biarlah, aku sendiri menurunkan jemuran rindu dan ribuan kisah yang mulai mengering dari hatiku. Aku tak mau menggantungkannya lagi, apalagi kau tak urung menjemputnya. Tuh kan, aku masih berharap itu kamu. Sudah-sudah. Aku pergi. Bersama hatiku, tanpa hatimu !

0 komentar:

Posting Komentar

Hesty Sihotang. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Toggle Footer
Top