Rabu, 16 Januari 2013
0 komentar

Banjir di Jakarta Timur

11.45
Banjir di Jakarta Timur kemarin, tepatnya Desember 21 sore hari, mengajarkanku satu hal baru yang sangat meneguhkan saya akan siapa itu Yesus dan bagaimana Ia bekerja.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa sih Tuhan Yesus mau dipermalukan, disika di Kayu Salib? kalau Dia adalah Tuhan, pasti Dia sanggup melepaskan diri dong!
Simak pengalaman pribadi saya.
Pada hari itu, saya liburan di rumah kakak saya di daerah Matraman, kp.Melayu. Puji Tuhan saya tiba dengan selamat berbekal nomor bus dan orang dalam bus yang memberi tahu saya ketika saya sudah sampai di tempat tujuan ( saya tidak tahu sama sekali jalan daerah itu ). Hari itu masih siang dan kalau pun saya "nyasar" masih bersyukur punya waktu untuk mencari tempat tujuan awal ( sekalian keliling2 gitu *lupakan).
Saya dengan sedikit kelelahan duduk di rumah kakak saya dengan tenang karena saya benar merasakan kepanasan disana. Jelas, secara Jakarta ya?.
Sore, cuaca semakin memburuk, awan menghitam dan turunlah hujan. Tidak tanggung, hujan yang begitu lebat, turun cukup lama. kami hanya memandangi dari dalam tanpa memikirkan apapun.
Anak-anak berlarian di depan rumah yang hanya sekitar 1 meter dengan rumah di depannya. Hujan masih terus berlanjut. Perlahan lantai mulai basah. Ternyata akibat anak-anak berlarian di depan rumah, sehingga air jadi bergelombang dan ketika semakin meninggi dan masuk ke rumah. Proses masuk sangat cepat dan air begitu kotor, bercampur sedikit sampah dan bau.
Dengan segala kebingungan kami pun menaikkan barang-barang ke atas (lantai 2).
Mulai dari kasur, tempat bantal, dll. Dan saya pun turut serta berulangkali naik turun tangga (baca: lelah).

Saya mengeluh. Jelas, baru hari pertama datang langsung disambut banjir.
Sepanjang saat itu saya berpikir, jika tadi saya tidak datang, pasti kakak sendiri dengan bayinya serta "mbak" yang sedikit lelet seperti saya itu yang melakkukan siaga tersebut. kasihan juga. tapi saya juga kasihan sama diri saya, inikan libur?
Continue..
Usai hujan reda, kami menyapu air keluar, mengepel, membersihkan seluruh ruangan, dan itu lelah dan bau. kembali mengeluh. Libur pertama sudah mengeluh. saya tidak yakin dengan hari berikutnya. Ternyata esoknya juga seperti itu. dan saya mulai merasa, ingin kembali ke asrama. masa liburan kayak gini?
Tetapi yang saya lihat dari kakak saya, dia tidak mengeluh, justru bersyukur banjirnya siang, kalau malam? *ujarnya. menurut saya sama saja, sama-sama capek.
Langkah selanjutnya, pembatas rumah di tinggikan, dan jika hujan air pun tidak masuk lagi, sejauh selama aku disitu sih..

16 Januari 2013
Ulang tahun kakak saya ini. dan saya melihat status nya di Fb
banjir lagi dan itu tengah malam dan dia harus angkut barang sendiri bareng suaminya dong ke lantai 2. ngebaca itu aku langsung iba dan sanggup merasakan sakit yang sama karena pernah mengalaminya.
Jika sebelumnya melihat banjir di koran, hanya kasihan, uda sebatas itu.
Tapi setelah merasakan sendiri, sakitnya lebih dapat dipahami.

Begitu lah Yesus..
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak bisa berhubungan dengan manusia karena dosa tadi.
Karena kerinduan-Nya untuk selalu bersekutu dengan ciptaan-Nya yang satu ini, Ia mengutus Putera-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus dalam rupa manusia. Dengan begitu melalui Yesus, istilah Like Father Like Son bisa diterapkan. Melalui pribadi Yesus kita bisa mengenal seperti apa Allah secara konkret.
Yesus, seorang anak Raja, diberikan oleh Bapa-Nya sendiri untuk turut merasakan kehidupan di dunia, merasakan kefanaan dunia, berbedanya, Ia tidak berdosa. Ia dipermalukan, dicaci, bahkan hingga kepada penderitaan terhebat "Di SALIB kan". Bapa sanggup kok melepaskan-Nya, tetapi semua tidak dilakukan, agar kita melihat besarnya kasih Allah. dan melalui penyaliban itu kita mengerti, Allah dengan caraNya mengubah penderitaan dengan Kebaikan Tertinggi tanpa menghilangkan kengerian penderitaan itu.
Ketika kita dalam penderitaan, jangan merasa sendiri. ceritakan semua pada Yesus, Dia sudah merasakan jauh lebih dari yang kita rasakan, dan Dia paham semua penderitaan kita, kenaapa? karena Ia telah merasakannya.
Sangat benar lagu "Kasih Masih Ada"
Hanya yang pernah merasakannya tahu duri dalam dagingku..

Jadi, itulah mengapa Allah kita di dalam Yesus itu mau menjadi manusia, menderita.. supaya Ia turut merasakan dan mengerti penderitaan manusia, menebus manusia (ciptaan kesayangannya) dan menunjukkan bahwa dunia dan kebahagiaan di dalamnya hanya lah bayangan redup dari apa yang akan di terima bersama Yesus di Surga..

Dari sini, saya belajar bersyukur . everything happens for a reason.
And I've found a reason by reason when I surrender all to Him..
Thank  Jesus.

0 komentar:

Posting Komentar

Hesty Sihotang. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Toggle Footer
Top